Kamis, 27 Januari 2011

Tekhnik Pembuatan TOR (Term Of reference)

Tekhnik Pembuatan TOR (Term Of reference)
 
Oleh M Yunan Muzakki
Disampaikan pada Diklat Jurnalistik Dasar LPM Arrisalah, 11 Desember 2009.
 
PENGERTIAN
TOR (Term Of reference) adalah perencanaan liputan atau yang biasa disebut outline, atau lembar penugasan. Keberadaannya penting bagi media, baik cetak maupun elektronik untuk menyajikan pemberitaan. Sebab dengan TOR tersebut, pemberitaan akan terfokus, mendalam dan lengkap. Tidak hanya sekedar memberitakan, dangkal atau bersifat pasif. Selanjutnya TOR ini bisa berpengaruh pada maju pesatnya media tersebut. Singkatnya, TOR merupakan panduan umum bagi seluruh kerja keredaksian.
 
FUNGSI
Fungsi TOR ini sangat vital. Untuk menentukan thema liputan, merumuskan masalah kemudian mencari jawaban atas permasalan melalui narasumber yang ditentukan, sekaligus menyelesaikan tugas pemberitaan tepat waktu.
TOR sangat penting bagi peliput, ia akan cepat mengerti apa yang akan dikerjakan kendati ia tidak mengikuti rapat redaksi. Selain itu TOR ini menjadi semacam catatan pertanggungjawaban atau akuntabilitas dan bukti transparansi bagi seluruh tim liputan. Artinya setiap orang yang terlibat dalam liputan terencana ini—peliput di lapangan, penulis dan redaktur—bisa menilai kinerjanya dengan merujuk TOR. Sekaligus bisa menyelesaikan peliputan tersebut dalam waktu yang ditentukan.
 
SYARAT-SYARAT TOR
Lalu bagaimanakah cara membuat TOR yang baik?. TOR yang baik adalah yang jelas dan rinci. Semakin baik TOR niscaya akan kian mudah pengerjaan liputan. Karena itu ada yang mengatakan separo pekerjaan telah selesai kalau TOR-nya bagus.
Sekali lagi perlu diingat bahwa TOR adalah panduan umum. Sangat keliru kalau hasil liputan dikondisikan sedemian rupa agar seturut TOR.
Apa syarat-syarat TOR tersebut? Bisa macam-macam, tergantung gaya pembuatnya. Tapi sebagai gambaran umum ada berapa hal yang perlu tercakup di dalamnya, antara lain:
 
1.Topik
Merupakan tema besar liputan. Ditempatkan sebagai judul TOR. Seperti judul berita straight news, sebaiknya singkat, padat dan mencerminkan inti masalah.
 
2.Latar masalah
Paparan inti masalah. Apa saja tali-temali persoalannya dan bagaimana mereka saling menghubungkan.  Sebaiknya tak usah berpanjang-panjang. Dengan membaca latar masalah ini diharapkan siapa pun yang terlibat dalam pengerjaan liputan—termasuk mereka yang tak mengikuti rapat perencanaan redaksi—akan cepat mengerti  hakekat masalah.
 
3. Sudut berita (angle)
Masalah pasti banyak, sementara peruntukan berita (kapling halaman dalam cetak, atau durasi atau masa tayang digunakan TV atau Radio) terbatas. Karena itu sajian perlu dibatasi. Juga agar pengerjaannya bisa fokus.  Dari sekian banyak masalah, kita pilih satu sudut. Dasar pemilihan bisa berdasarkan urgensitas, keeksklusifan, konteks zaman atau prioritas sajian (ciri khas) media tersebut.
 
4.Pembagian tulisan/cerita/story
Berita terancana biasanya dikerjakan secara khusus. Artinya ada pengalokasian sumber daya dan waktu secara ekstra. Berbeda dengan straight news atau berita permukaan lain. Karena itu sajiannya biasanya panjang.  Contoh yang mudah kita bayangkan adalah Laporan Utama atau Laposan Khusus majalah. Laporan Utama (Laput) atau Liputan Utama (Liput) biasa sampai 12 halaman berikut foto dan grafis. Jadi terdiri dari sejumlah item tulisan/cerita/story yang saling terkait. Tulisan/cerita/story utama berupa rangkuman masalah. Sedangkan bagian lainnya berupa penjabaran (break-down) dari yang utama. Setiap tulisan/cerita/story pendukung ini harus fokus supaya tidak tumpang-tidih dengan yang lain.
 
5.Narasumber
Setiap tulisan/cerita/story membutuhkan narasumber sendiri. Tapi sangat mungkin seorang menjadi narasumber di beberapa tulisan/cerita sekaligus. Tak masalah kalau itu terjadi. Dasar pemilihan narasumber adalah kompetensi. Semakin terkait seseorang dalam masalah, kian tepat ia dijadikan narasumber. Dengan demikian pelaku-korban adalah prioritas utama. Saksi mata   prioritas kedua. Adapun pengamat  sebaiknya dipakai kalau dibutuhkan untuk menjelaskan hal-hal yang terlalu teknis saja.
 
6.Daftar pertanyaan
Sesuai dengan kompetensi narasumber. Gali  informasi sebanyak mungkin. Bisa juga untuk menguji informasi yang telah kita dapatkan. Yang paling minimal adalah mendapatkan kutipan langsung. Dalam TOR, semakin baik pertanyaan akan kian baik sebab lebih fokus. Pewawancara cukup mengajukan pertanyaan  yang relevan saja. Tapi ada catatan. Dalam wawancara terbuka kemungkinan terungkap hal baru yang menarik. Sesuatu yang tak terbayangkan oleh sang pembuat TOR. Karena itu pewawancara sebaiknya senantiasa diminta mengembangkan pertanyaan. Yang didaftar panduan umum saja.
 
7.Observasi lapangan
Reportase yang baik adalah yang hidup. Ada penggambaran agar khalayak selekas mungkin bisa menangkap suasana. Media yang menggunakan audio-visual, yaitu TV, seketika bisa melukiskan suasana. Tayangan mereka gambar hidup lengkap dengan suara. Yang menggunakan audio, yaitu radio, perlu waktu yang lebih lama. Suaranya harus pas betul agar konteksnya bisa ditangkap pendengar. Yang butuh waktu paling lama dalam deskripsi suasana adalah media cetak. Untuk mendapatkan deskripsi, gambar dan suara yang baik tentu perlu observasi.
 
8.Rancangan foto/suara/gambar
Foto perlu untuk media cetak. Suara untuk radio dan TV; sedangkan gambar untuk TV. Dalam konteks jurnalistik, foto, suara dan gambar adalah informasi. Sejak awal foto, sound atau gambar perlu direncanakan. Tujuannya agar sinkron dangan tulisan atau narasi. Foto, suara atau gambar sebaiknya yang hidup (berbicara), bukan pas foto atau mejeng. Rekayasa harus dihindari. Rekayasa untuk keperluan ilustrasi boleh tapi harus disebut dengan jelas.
 
9.Rancangan grafis
diperlukan bila terkait dengan Data berupa angka-angka statistik, serta lokasi dan urut-urutan kejadian. Sebuah kejadian, misalnya tabrakan beruntun di jalan raya,  bisa kita ceritakan dengan kata-kata. Kemungkinan sajian seperti ini akan panjang dan belum tentu akan mudah dipahami khalayak. Dengan infografis kejadian serupa bisa kita paparkan secara gamblang. Sejak awal sajian grafis, kalau memang ada, perlu kita rencanakan agar periset data dan bagian grafis bisa menyiapkannya lebih awal.
 
10.Riset data
Tulisan akan kering dan kurang meyakinkan  kalau datanya minim. Karena itu data pendukung tulisan harus disiapkan sejak awal. Bentuknya bisa kliping koran dan majalah, buku atau terbitan khusus. Bahan ini bisa kita pesan ke bagian data di perpustakaan. Kalau tidak, kita cari sendiri. Sebaiknya reporter yang akan mewawancarai narasumber perlu juga kita ingatkan untuk mencari data terkait, kalau ada dokumen akan sangat baik, milik narasumber yang bisa dipinjam atau digandakan.
 
11.Tenggat waktu (deadline).
Pengerjaan liputan tentu ada batas waktunya. Hal ini harus disebut jelas dalam TOR supaya semua yang terlibat dalam pengerjaan mengetahuinya. Yang namanya deadline harus dipatuhi. Kalau tidak, jadwal pekerjaan berikutnya bisa terganggu atau bahkan berantakan.
--------------
Tehnik Reportase
Reportase dapat diartikan sebagai proses pengumpulan data yang digunakan untuk penulisan karya jusnalistik. Objek pengumpulan data tersebut dapat berupa manusia, makhluk hidup selain manusia, buku-buku, tempat bersejarah, dan sebagainya. Suatu reportase disebut sebagai wawancara jika objek reportasenya adalah manusia.
Apakah wawancara sama dengan reportase? Jawabannya adalah tidak. Reportase memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas daripada wawancara, sedangkan wawancara merupakan salah satu jenis teknik reportase.
Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media massa.
Dalam konteks ini, wawancara merupakan proses pencarian data berupa pendapat/pandangan/pengamatan seseorang yang akan digunakan sebagai salah satu bahan penulisan karya jurnalistik. Dari wawancara, sebuah berita didapat dan dilaporkan kepada masyarakat. Untuk itu, wawancara sedikit banyak mempengaruhi sebuah kualitas berita. Sebab wawancara dibutuhkan untuk mendapatkan keterangan, fakta, data-data, penegasan serta beragam jenis informasi lainnya. Kegunaan wawancara bisa untuk memastikan sebuah kebenaran, mengklarifikasi, me-recheck, atau meluruskan kembali berbagai informasi yang didapat.
Jenis wawancara
1. News interview
yaitu wawancara dalam rangka memperoleh informasi dan berita dari sumber-sumber yang mempunyai kredibilitas ataupun reputasi di bidangnya.
2. Casual interview, atau disebut juga wawancara mendadak. Ini adalah jenis wawancara yang dilakukan tanpa persiapan/perencanaan sebelumnya.
3. Man in the street interview
Tujuan untuk mengetahui pendapat umum masyarakat terhadap isu atau persoalan yang hendak diangkat menjadi bahan berita.
4. Personality interview, yaitu wawancara yang dilakukan terhadap figur-figur publik yang terkenal, atau bisa juga terhadap orang-orang yang dianggap memiliki sifat/kebiasaan/prestasi yang unik, yang menarik untuk diangkat sebagai bahan berita.
Persiapan Wawancara
Secara sederhana terdapat sedikitnya dua tahap untuk melakukan persiapan wawancara;
1.      Tahapan Biografis
Tahapan untuk mengumpulkan tentang nama, tempat tinggal, data-data umum lain terhadap narasumber.
2.      Tahapan non Biografis.
Mengumpulkan keterangan seputar subyek, seperti yang terkait dengan kehidupan tokoh selain biografis.
Model Wawancara
Wawancara langsung (Tatap Muka). Biasanya dilakukan media elektronik, khususnya televisi.
Wawancara tidak langsung (Telpon dan Tertulis). Bias dilakukan media elektronik maupun cetak.
Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Wawancara
Agar tugas wawancara kita dapat berhasil, maka hendaknya diperhatikan hal-hal – antara lain – sebagai berikut:
1. persiapan.
Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya.
2. Taatilah peraturan dank ode etik.
Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.
3. Jangan mendebat nara sumber.
Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan terkesan membantah.
Contoh yang baik: “Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?”
Contoh yang lebih baik lagi: “Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?”
Contoh yang tidak baik: “Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?”
4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum
Biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber. Seperti menayakan umur, kesibukan sehari-hari dll (karena mestinya sudah diketahui lebih awal)
5. to the point.
Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna ucapan si pewawancara.
6. Hindari pertanyaan ulang.
Hal ini dapat merugikan kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya.
7. ikuti karakter nara sumber.
Untuk nara sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing yang membuat si nara sumber “buka mulut”. Sedangkan untuk nara sumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar nara sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara.
8. Jalin hubungan personal dengan nara sumber
Dengan cara memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang akan datang.
9. Memihak Narasumber
Jika kita mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu, bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian. Seperti kata pepatah, “Jangan bicara tentang kucing di depan seorang pecinta anjing”.
 

3 komentar:

  1. Siplah, lumayan buat referensi, tp kalo ada yang tentang penggajian. .Thanks

    BalasHapus
  2. terima kasih yaa infonya..
    izin aku copas ya link-nyaa :)

    BalasHapus
  3. bisa minta contoh tor utk karya tulis ilmiah untuk dosen ??

    BalasHapus